Selasa, 16 Agustus 2016

Sjahrir dan Akal Merdeka[1]

Oleh: Libasut Taqwa[2]
Pengantar
Sutan Sjahrir lahir pada bulan Maret 1909 di Padang Panjang, daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Di masa kecilnya ia bersekolah di Medan, lalu melanjutkan perantauan ke Bandung, Jawab Barat. Hasrat intelektual membawanya terus meninggalkan negeri menuju Amsterdam, dan Leiden di Belanda untuk belajar. Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, ia adalah salah satu tokoh yang cukup disegani. Usahanya mencapai Indonesia merdeka tidak sedikit menempuh duka dan luka. Di penjara hampir delapan tahun lamanya, dibuang Belanda ke pulau-pulau terpencil, hingga meninggal dalam pembuangan rezim yang turut dibangunnya menjadikan Sjahrir sebagai tokoh besar yang dapat kita jadikan teladan baik di masa kini maupun masa yang akan datang.

Senin, 08 Agustus 2016

Quo Vadis Tayangan Televisi Indonesia

(Refleksi sesaat setelah diskusi IBI edisi Jumat, 5 Agustus 2016)

Oleh: Marlaf Sucipto

Televisi sebagai media massa, memiliki fungsi: informatif, hiburan, dan alat kontrol sosial. Tapi yang dominan, justru dalam hal hiburan, itu pun rata-rata, tontonan itu tidak layak dan tidak baik dijadikan tuntunan. Layak, saya menggukurnya dari tiadanya penjelasan, spesifikasi tontonan itu untuk siapa. Anak-anak, remaja, dan dewasa. Sedangkan ketidakbaikan tontonan itu, saya mengukurnya dari konten tayangan yang ada, selain iklan yang menjejali alam bawah sadar agar berprilaku konsumeristik, juga konten tayangan seperti sinetron, yang rata-rata menyajikan kegemilangan di atas kemalasan. Seakan, kehadiran sinetron, turut memperteguh gaya hidup glomour, tampil tidak apa adanya, dan menjadikan manusia Indonesia untuk memusat ke Jakarta. Seakan, Jakarta menawarkan kesejahteraan hidup sebagaimana yang ditayangkan oleh, rata-rata, sinetron-sinetron televisi itu.

Sabtu, 04 Juni 2016

Konsep Hukum Sebagai Alat dan Sarana Bagi Masyarakat[1]

 Oleh: Alfin Law[2]

Dalam suatu meteri yang diperbincangkan tentang substansi hukum, tentu banyak pemahaman yang berbeda dalam mengartikan apa yang menjadi  isi sebenarnya dari hukum itu sendiri. Bahwa, sebagian pelaku hukum mengartikan hukum secara parsial semata, di mana hukum hanya dipandang sebagai hukum normatif saja yang menafikan dari sisi falsafah dan sosiologis. Sehingga hukum tersebut menjadi hukum yang memihak kepada mereka yang cenderung politis.  Secara faktual tidak bisa dipungkiri terdapat resistensi terhadap produk-produk hukum, sehingga keberlakuannya secara empiris tidak bekerja secara maksimal dan jelas bukan merupakan produk hukum yang baik.

Jumat, 27 Mei 2016

MERAWAT ISLAM NUSANTARA, MENJAGA MASA DEPAN ISLAM[1]

Oleh: Masduri[2]

ABSTRAK
Islam Nusantara merupakan gagasan dan gerakan pemikiran NU yang dinamis dan progresif. Bahkan jauh sebelum NU didirikan, Islam Nusantara telah mengakar dan menjadi bagian dari nilai-nilai keislaman yang menyejarah dalam tradisi intelektual ulama Islam klasik. Karena itu, upaya peneguhan Islam Nusantara sebagai basis gagasan dan inspirasi peradaban dunia bukan merupakan sesuatu yang berlebihan. Karena keberadaan Islam Nusantara sebagai konsepsi pemikiran ala NU, telah terbuki mampu menghadirkan dunia keislaman yang lebih damai, moderat, dan mengedepankan penghargaan yang tinggi terhadap segala bentuk keragaman.
Di tengah persoalan dunia yang semakin kompleks, seperti gelombang besar gerakan terorisme, gerakan masif  khilafah Islamiyah, arus globalisasi budaya, tersisihnya politik kesejahteraan, dan hilangnya humanisme transendental, NU tentu harus tampil di garda depan sebagai ormas terbesar di Indonesia yang mampu menyuguhkan alternatif melalui basis tradisi Islam Nusantara, sehingga misi besar Islam sebagai agama rahmatal lil’alamin dapat terealisasi, agar umat Islam benar-benar menjadi khaira ummah seperti ditegaskan oleh Allah SWT. dalam al-Quran.

Selasa, 19 April 2016

Tanggapan Atas Tulisan: “Indonesia itu Khilafah dalam Bahasa Lokal”[1]

Oleh: Ahmad Jauhar Fathoni[2]

Bismillah walhamdulillah. Saya sampaikan terimakasih kepada Bung Libas telah menanggapi tulisan saya. Saya merasa perlu untuk memberikan beberapa tanggapan balik kendati ini terlambat. Meski sebenarnya saya tidak sesibuk Bung Libas. Jadi, bukan karena alasan kesibukan tulisan tanggapan balik ini baru muncul.

Lepas dari setuju atau tidak dengan tulisan saya, saya mencermati Bung Libas ‘terburu-buru’ menstigma sebelum menuntaskan diskusi dan mendalami topik yang sedang diuji argumentasinya. Sepanjang sejarahnya, Hizbut Tahrir (HT) konsisten untuk konsen dengan adu argumentasi ilmiah, bukan dengan kekerasan atau main larang bicara yang hanya mengAndalkan logika kekuatan. Saran saya simpan dulu stigma Anda, mari buka diskusi dan perdebatan ilmiah. Sehingga kalaupun Anda tetap pada pendiriannya, setidaknya di antara kita akan ada tafahum.

Minggu, 10 April 2016

Membangun Masjid dan Membangun di Masjid

Oleh: Marlaf Sucipto
Kita tahu -utamanya umat Islam- bahwa sholat adalah perintah yang diturunkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad tanpa perantara Malaikat Jibril sebagaimana wahyu-wahyu yang lain. Hal ini tergambar jelas di dalam al-Quran surah ke-17, al-Isro’ (1), Nabi Muhammad yang didampingi Malaikat Jibril menghadap langsung kepada Allah, berangkat dari Masjidil Harôm Mekkah, singgah di Masjidil Aqshô, Palestine, kemudian berlanjut dengan perjalanan vertikal (mi’rôj) menghadap Allah di Sidratul Muntaha. Mayoritas ulama’ mufassirunmemaknai Sidratul Muntaha sebagai singgasana Allah. Malaikat Jibril yang bertindak sebagai “ajudan” Nabi Muhammad sekali pun, hanya ngantar sampai di pintu Sidratul Muntaha, karena, menurut mayoritas ulama’ mufassirun, hanya Nabi Muhammad yang sanggup menghadap dan bercakap-cakap langsung dengan Allah, sedangkan selainnya, tak ada yang mampu, termasuk nabi-nabi yang lain.

Pojok Gus Dur (II)[1]

Oleh: Libasut Taqwa
Setelah berapa waktu lalu berbagi cerita di Pojok Gus Dur—Abdurrahman Wahid, dan situasi tempat itu yang cukup efisien untuk belajar dan membaca buku, di samping juga kegunaan lainnya seperti tempat belajar mengaji, kali ini saya ingin menyampaikan tentang tokoh yang dari namanya tempat itu dinamai; Gus Dur.

Terang-terangan saya mengakui, ada banyak hal yang menjadi pertanyaan di benak atas Gus Dur. Baik Sepak terjang, kehidupan, bahkan pikirannya yang acapkali kontroversial (?). Apakah ia memang kontroversi dan salah jalur sebagaimana yang akan saya catat di bawah ini?. Saya kira pertanyaan-pertanyaan ini suatu perkara yang biasa. Hal-hal yang memang seharusnya pantas menjadi pergolakan batin bagi seseorang yang memang secara langsung belum pernah bertemu dengan sosok tertentu, dan hanya menikmatinya dari perspektif ragamnya bacaan dan seringkali multitafsir –untuk tidak mengatakan keliru- mengenai tokoh itu.